Media Kajian Islam, Hukum, dan Hikmah

Sabtu, 23 Februari 2013

Mari Sayang, Menulislah!

Kau tahu, banyak orang yang mendambakan kebahagiaan dalam hidupnya. Tapi sayangnya, mereka tak tahu jalan untuk meraih kebahagiaan itu. Tapi kau tak boleh seperti mereka. Sekali-kali jangan! Betapa pun kuatnya kau ingin hidupmu bahagia kau harus merumuskan sendiri konsep bahagia yang kau dambakan itu.

Bahagia tidak bisa diukur dengan materi. Ungkapan ini jamak engkau dengar berulang-ulang. Betapa banyak contoh dalam hidup ini yang meski materi berlimpah, seseorang justru terasa kering dan hambar dalam hidupnya. Tentu kau tak ingin, kan, masuk ke dalam kandang kategorisasi orang-orang yang muram durja dalam hidupnya.

Secepatnya kau harus rumuskan sendiri bahagia itu. Kau pernah baca sebuah buku, misalnya, kebahagiaan hanya bisa diperoleh pada hari ini. Bukan kemarin-kemarin apalagi bayangan atau ilusi tentang masa depan. Artinya, hari ini sesungguhnya kau bisa meraih kebahagiaan itu. Optimalkan segala potensi dan kerjakan hal-hal yang positif. Bukankah sebuah pesan pernah kau catat sendiri, berbuat baik kepada orang lain melapangkan hati. Bukankah berulang-ulang kau telah baca pesan Nabi Saw., sebaik-baiknya manusia adalah yang bisa memberikan konstribusi yang baik bagi sesama.

Inilah motivasi dari Nabi Saw. yang patut kau renungkan dalam perjalanan hidupmu. Nabi mengajak umatnya, termasuk kau, agar menjadi manusia lebih baik dan berkualitas dalam hidupnya. Bukan sekedar beban yang menyusahkan orang lain. Jika kau artikan lebih spesifik lagi, kau bisa tarik kesimpulan sendiri, kualitas itu akan menjadi super bilamana bidang yang kau tekuni itu membuahkan kemanfaatan bagi orang banyak. Artinya, kau tidak mungkin berjalan asal-asalan.

Tentukan bidang mana yang kau tekuni dan merasa enjoy di dalamnya. Pilihan segera jalan kehidupanmu untuk kau istiqamahi. Pandai-pandailah memposisikan diri yang jelas dalam hidup ini.

Jika kau seorang petani, kau tentu akan menanam padi. Jika kau seorang dokter, kau tak bisa lepas berurusan dengan orang-orang sakit. Jika kau guru, tugasmu adalah mendidik sekaligus menjadi tauladan bagi murid-muridmu... Jadikan dirimu ahli dalam bidang yang kau geluti.

Lalu bagaimana dengan dirimu? Dengar-dengar kau ingin menjadi penulis. Dengar-dengar profesi ini kau jadikan pelampiasanmu lantaran acap tenggelam dalam kesendirian dan merasa perlu untuk menuangkan ide-ide. Dengar-dengar kau bisa menemukan kenikmatan dalam menulis apalagi jika dilakukan pada malam hari yang sunyi. Ya baiklah! Ok, menulis. Bukan profesi yang buruk!

Tapi kau harus konsisten menulis. Itu saja kuncinya bila ingin sukses. Istiqamah, kalau agama menamainya. Kau tahu sendiri kan, Nabi Saw. telah mengingatkan, kalau Allah suka jika hamba-Nya mengerjakan amal sedikit saja tapi itu dilakukan secara kontinyu. Artinya, kau tak boleh bosan-bosan untuk menulis. Tulislah barang dua-tiga kalimat paling sedikit jika rasa malas menghampirimu. Pendeknya, kau tidak boleh mandeg. Kau harus menulis, menulis, dan menulis...

Jika kebahagiaanmu kau temukan saat menulis, syukurlah, kau sudah dapatkan jalan untuk meraihnya. Tinggal bagaimana kebahagiaan itu bisa berbuah positif. Menulis, ya, menulis.. Kau harus istiqamah untuk menjalaninya. Bermula dari sini, dari yang kecil dan karena terbiasa menulis, suatu saat kau akan memetik buahnya. Butuh proses memang. Tapi yakinlah suatu saat buah karnya itu akan membuatmu tersenyum. Kau akan temukan kebahagiaan yang berlimpah. Menjadi sosok yang bermanfaat bagi orang lain sekaligus merengkuh kebahagiaan.

Mari sayang, menulislah!

Lebo, 23 Feb 2013

logoblog

Tidak ada komentar:

Posting Komentar