Dan, pesan Nabi saw. yang acap beliau kutip berulang-ulang tiap kali pidato di hadapan kami, santri-santrinya, itu kembali berdengung di pikiran saya. Beliau adalah tauladan bagi santri-santrinya tentang konsistensi etos sosial yang penuh ketulusan. Bagaimana kinerja itu beliau lakukan tanpa pamrih, sembari mantab bahwa balasan kebaikan yang diperoleh dari Allah sungguh tak ternilai harganya.
Berpostur besar, kulit putih besih, aura wajah yang memancarkan kedamaian, dengan suara menimbulkan getar sana-sini—adalah ciri fisik yang masih saya ingat dari beliau. Yang saya kagumi dari beliau adalah betapa besar wibawanya. Saya masih ingat, ketika saya dan teman-teman bergurau di luar kelas ketika jam pelajaran kosong, baru mendengar mobilnya lewat di hadapan kami saja, kami sudah kalang kabut kabur kembali ke kelas. Baru akan mendengar beliau akan memasuki ruang kelas untuk mengampu suatu mata pelajaran tertentu murid-murid sudah berdebar dan bungkam semua.
Apalagi sampai berhadapan langsung dengan beliau, jika misalnya seorang murid habis melakukan pelanggaran di sekolah. Saya sendiri pernah merasakan betapa pikiran tidak bisa tenang tatkala lebih dari tiga hari saya tak sekolah. Kala itu saya memang sedang sakit typus, tapi berhubung hari itu hari kejepit maka pihak yayasan langsung mengabsensi sendiri tiap-tiap kelas. Saya tak sempat bikin surat izin, karena saya waktu itu sedang liburan di rumah. Jadi, tak ada ruang berapologi jika saya sakit. Yang terjadi adalah saya hanya pasrah menunggu hukuman dari Kai Humam dan meminta maafnya.
Kewibawaan beliau sampai sekarang membuat saya bertanya-tanya. Kenapa orang-orang besar selalu memancarkan wibawa? Kenapa aura wibawa kiai-kiai besar membuat orang-orang di sekitarnya takjub hingga hormat takzim? Jenis amalan apa yang membuat mereka seperti itu? Apakah ini janji Allah, yang telah mengangkat derajat orang-orang yang berilmu, hingga orang sekelilingnya menghormatinya dan menjadikannya sumber inspirasi?
“Saya penasaran apa saja amalan Kiai Humam hingga memiliki wibawa seperti itu?” tanya salah seroang kiai saya saat mengajar di hadapan kami pada suatu hari di tahun 2001, saat saya kelas dua Aliyah. Sama seperti kiai saya itu, saya juga acap penasaran dan karena itu saya suka mengamati dan mencoba memahami kekuatan di balik itu semua.
Pada akhirnya, saya hanya bisa mereka-reka dan menyimpulkan bahwa ini karena takdir Allah. Beliau putra kiai dan karena itu aliran berkah dari Allah telah mengisi jiwanya. Beliau adalah seorang pemimpin yang hebat. Orator luar biasa. Sangat mengayomi murid-muridnya, berinteraksi sangat baik dengan wali santri. Maka tak heran banyak kesan baik yang dirasakan oleh orang-orang yang pernah dekat dengan beliau. Ada sebuah kenangan yang telah memberikan nilai-nilai dan pelajaran yang berharga untuk direnungkan.
Maka tiap kali saya membaca hadis Nabi itu, saya teringat beliau. Kasih sayang yang luas, selalu berkorban dengan tulus untuk orang, menjadi pemimpin yang mengayomi, selalu bersyukur dan berbicara kepada orang lain sehabis mendapat nikmat dari Allah adalah salah satu ajaran dari beliau yang saya ingat. Maka tak berlebihan jika orang-orang membayarnya dengan menyayangi dan menghormati beliau. Tidak hanya penduduk bumi, penduduk langit pun sayang pada beliau. Maka tak mengherankan jika banyak yang menangis karena kehilangan sosok yang menerangi umat dan mencetak generasi-generasi Islam yang handal.
Seperti dalam kandungan hadits itu, dimana penduduk langit menyayangi beliau, saya pun demikian. Seperti saat menuliskan ini, sesungguhnya saya sangat kangen pada beliau. Beliau adalah teladan saya. Semoga saya bisa meniru perjuangannya.[]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar