Media Kajian Islam, Hukum, dan Hikmah

Rabu, 22 Agustus 2012

Doa Nabi Ayub As. (1)

Dalam kesabaran, selalu ada nilai-nilai terpuji yang patut direnungkan. Orang-orang yang bersabar akan menjadi tauladan dan pelajaran bagi orang-orang yang hanya memandang dunia sebagai tempat bersenang-senang dengan segala kenikmatannya.

Dan, dari hamba Allah yang shaleh, Nabi Ayub as., kita bisa meneladani bagaimana sang hamba menempatkan diri sebagai tauladan orang yang bersabar. Dalam menghadapi segala musibah dan cobaan yang menerpa hidup, darinya kita bisa belajar.

Ketika segala kenikmatan harta dan anak Nabi Ayyub lenyap, kemudian tubuhnya juga digerogoti penyakit, maka yang dikhawatirkannya adalah rasa sakit yang menimpa hati dan lidahnya. Bagi Sang Nabi, hati adalah instrumen untuk menyukuri nikmat Allah, sedangkan lidah membuatnya tidak ingin berhenti berzikir kepada-Nya.

Syahdan, tatkala tubuh Nabi Ayub sudah tidak tersisa daging lagi, ulat-ulat yang mengerubungi tubuhnya saling makan-memakan. Ulat-ulat inilah yang menyebabkan bertahun-tahun tubuh Nabi Ayub menderita penyakit akut. Sampai-sampai yang tersisa hanya dua ekor ulat. Kedua ulat itu pun mengelilingi tubuhnya hendak mencari-cari seonggok daging, tapi tidak mendapati apa-apa kecuali lidah dan hatinya. Salah seekor ulat itu mendekati hatinya lalu menggigitnya, yang lain mendatangi lidahnya lalu menggigitnya.

Merasa dua anggota tubuh akan hilang karena ulah ulat-ulat itu seketika itu Nabi Ayub mengaduh kepada Allah,

أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِيْنَ 

“(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit. Dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.”

Ini bukan keluhan Nabi Ayub. Ia tidak keluar dari kategori selaku orang-orang sabar. Tapi doa ini menyimpan hikmah.

Doa ini mengukuhkan hakikat tauhid dan pernyataan tentang kefakiran seorang hamba kepada Tuhannya. Nabi Ayub juga menyatakan rasa cintanya kepada Allah seraya memuji sifat Rahman-Nya yang tiada bandingnya. Doa ini sekaligus membuktikan kalau Nabi Ayub sangat membutuhkan pertolongan Allah sebab kondisinya yang tak lagi bisa berzikir dan bersyukur jikalau habis sudah lidah dan hatinya.

Sebab ia tidak mengeluhkan harta maupun anak-anaknya yang telah tiada. Tetapi yang dikeluhkan ialah putus hubungan dengan Allah. Seolah-olah ia berkata, “Wahai Allah, aku akan bersabar terhadap segala musibah dari Engkau selama hati masih dapat menjalin cinta kepada-Mu dan lidah dapat berzikir kepada-Mu. Jika kedua anggota ini lenyap, akan berdampak keterputusan. Dan saya tidak sabar ketika harus berputus dari Engkau, sedangkan Engkau Mahapengarunia rahmat.”

Nabi Ayub adalah contoh ideal tentang kesabaran.

Berkaitan dengan pribadi Nabi Ayyub, Allah Swt. menegaskan dalam sebuah firman-Nya, “Sesungguhnya, Kami dapati dia seorang yang sabar.” (Shad: 44).[]


Wallahua’lam
logoblog

Tidak ada komentar:

Posting Komentar