Dan saya pun kangen nulis. Menulis tentang hal yang tak penting. Yang tak penting pun jadi penting karena saya perlu ngopeni hal-hal yang tak penting biar tetap penting.
Tapi apa? Apa saya perlu menuliskan kisah-kisah cengeng seperti kala dulu ketika sepi acap menyapa saya? Tentang diri saya yang acap saya rendah-rendahkan hanya demi sesuatu yang sudah disabda, demi sebuah cinta?
Tidak.
Saya hanya perlu menuliskan hal-hal yang baik, yang memotivasi saya, yang bermanfaat bagi saya sekaligus evaluasi waktu saya. Saya pun kali ini menuliskan tentang sebuah pengharapan. Agak mustahil, tapi dengan istiqamah, pengharapan itu semoga berbuah indah.
Ya hapal Quran. Kedengaran agak aneh memang. Mengingat di usia saya yang sekarang ini.
Tapi tidak. Kuncinya istiqamah. Itu yang harus saya latih sejak sekarang, mumpung masih muda. Sehari tiga ayat, itu cara yang ingin saya pertahankan. Tiap hari tiga ayat, mengulang yang telah dihapal, dengan niat bismilah, saya kira saya mampu melaluinya.
Kenapa saya jadi begini? Saya hanya ingin ketenangan hati. Dengan bacaan Quran, saya harap menemukan syifa` atas kegelisahan hidup saya. Sampe sekarang saya belum menemukan keteguhan hati dan istiqamah. Kadang hanya menuruti keinginan-keinginan sesaat, yang tak tentu manfaatnya.
Saya ingin ada amalan ajeg yang ingin saya lakukan. Pilihan itu pada hapalan Quran. Selain ketenangan hati, kelak saya ingin mengenalkan Quran pada anak-anak saya. Saya ingin keluarga saya hidup berasaskan Quran. Saya termenung ketika ditanyakan bagaimana akhlak Rasulullah yang lantas Aisyah, sang istri, menjawabnya bahwa akhlak beliau adalah Quran.
Seperti Rasulullah yang berbudi pekerti Quran, saya ingin keluarga saya dan anak-anak saya meneledaninya melalui bacaan Quran. Dengan begitu harapan saya untuk mendidik anak agar memiliki berbudi pekerti yang luhur semoga terkabulkan.
Lebo, 4 Januari 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar