Media Kajian Islam, Hukum, dan Hikmah

Rabu, 20 April 2011

Pada Suatu Hari Ujian Sekolah



Saya masih mengenangnya. Tentang ketidakjujuran dan kecurangan saat ujian. Saya pun, seperti mereka yang malas-malasan belajar, sesekali mengandalkan teman kanan-kiri yang bersedia menjadi "sumber kebaikan". Saya bersyukur. Di tengah-tengah kecemasan mengejar nilai standar kelulusan, prinsip kebersamaan akhirnya menjadi penentu ketidakpastian dari usaha yang tidak tentu.

Sudah delapan tahun, ketika terakhir kali saya mengikuti ujian nasional kelulusan sekolah tingkat atas. Di sebuah sekolah dengan pendidikan agama yang dominan. Sebuah lembaga pendidikan yang sarat prestasi dengan biaya pendidikan murah. Tapi, selama tujuh tahun nyantri di lembaga pendidikan itu, saya tidak menemukan diri saya saat bersekolah: kejujuran.

Kali ini saya bicara tentang kejujuran. Kejujuran diri sendiri sebagai seorang siswa sekolah, kala itu. Betapa tidak mengertinya saya, betapa tidak takutnya saya. Seorang guru pengawas berdiri di depan kelas. Mukanya garang menebar pandangan ke seisi ruangan. Pada mulanya, siswa-siswa yang sedang ujian tampak tenang. Serius mengisi lembar jawaban. Larut dalam pikirannya masing-masing. Tapi, situasi yang seharusnya berujung sampai ujian selesai ini, perlahan mulai berubah, hanya beberapa menit sejak jam ujian dimulai.

Berisik, kadang menjurus susana gaduh. Murid-murid menoleh kanan-kiri, hanya hitungan jari yang masih khusyuk mengerjakan soal. Adapun Pak Pengawas tadi, dengan santainya membiarkan murid yang sedang mempertontonkan aksi ketidakjujuran itu. Sesekali menegur mereka, ketika suara-suara mulai terdengar berisik, dan terdengar sampai di kelas sebelah. Tak mau ketinggalan, saya pun lebur dalam kegaduhan itu, ketika pikiran mulai buntu.

Saya sadar jika ketidakjujuran telah tumbuhkembang dalam diri saya. Sikap curang itu rupanya telah tertanam dalam pikiran saya sejak usia dini. Pada akhirnya, saya mafhum jika selama sekolah orientasi yang utama adalah mengejar nilai. Saya pun, demi menjaga agar tidak dianggap bodoh dan untuk menepis rasa malu, rela melakukan tindak curang kala menemui kesukaran menjawab lembaran ujian.

Itu berlangsung lama, sejak saya masih duduk di sekolah dasar hingga tamat Aliyah. Saya tidak sendiri. Banyak teman yang melakukan hal serupa. Kadang saya menjadi "juru kebaikan" bagi teman-teman yang menunjukkan roman muka nelangsa ketika lembaran ujian telah menyiksanya.

Bahkan yang miris adalah lembar ujian sudah bocor sebelum dibagikan pada hari ujian. Entah bagaimana bisa bocor sebelum harinya. Dan, ada-ada saja teman yang berhasil mendapatkan lembar soal yang bocor itu. Saya pernah mendapatkan bocoran soal itu, meskipun pada akhirnya pernah juga kena tipu karenanya.

Apakah saya tidak belajar sebelum menghadapi ujian? Belajar. Tapi saat itu orientasi dari belajar adalah tujuan dari hasil akhir. Ya, sebuah nilai dari hasil ujian. Sebuah orientasi yang harus ditempuh bahkan cuma semalam. Bukan proses melelahkan, melainkan usaha minimal namun berharap ada berkah besar di ruangan kelas itu: seorang kawan yang pintar ujian seruangan atau, syukur-syukur, duduk bersebelahan.

Dan kini, riwayat ketidakjujuran saya itu tiba-tiba muncul kembali di pikiran kala membaca berita kecurangan siswa-siswa sekolah menengah atas saat sedang ujian nasional. Aksi perjokian, contek-mencontek dan tanpa adanya larangan membawa hp telah mewarnai pelaksanaan ujian nasional. Ironisnya, pengawas ujian pun masa bodoh terhadap ulah mereka. Bahkan seolah-olah mereka menutupi kecurangan para murid, seperti dulu ketika saya merasa dilindungi oleh mereka kala kasak-kusuk mencari contekan.

Saya perlu menuliskan ini sekaligus untuk mengenang kebodohan saya. Perlahan saya menyadari betapa budaya curang ini tidak berhenti di zaman saya sekolah, tapi tetap ada dan lestari hingga saat ini. Sudah membudaya dan sulit menghapusnya.

Dan, cerita tentang ketidakjujuran itu telah purna. Saya beroleh pelajaran penting saat menjadi mahasiswa Al Azhar. Kala ujian jangan bayangkan "suasana gotong royong" tampak di ruangan. Saya khusyuk dengan lembar ujian saya sendiri, setelah berhari-hari mati-matian belajar mempersiapkan ujian. Bahwa hasil akhir yang saya terima pada akhirnya mempresentasikan sejauh mana ikhtiar dan kejujuran saya.

Saya menyadari, perlu ada yang diperjuangkan untuk meningkatkan kualitas diri. Nilai ujian bukan segala-galanya. Tapi kejujuran, proses panjang, dan mau belajar dari kesalahan itulah bekal yang harus saya punyai. Tak hanya di ruangan ujian itu, tapi di belantara hidup ini.

Kampoengku, 20 April 2011
logoblog

Tidak ada komentar:

Posting Komentar