Media Kajian Islam, Hukum, dan Hikmah

Jumat, 31 Desember 2010

Timnas Indonesia Membanggakan

Timnas Indonesia AFF Cup 2010

Membanggakan dan menghibur, itulah timnas Indonesia sekarang. Dimana-mana diperbicangkan dan dielu-elukan, mulai setara dengan para seniman yang berlebelkan bintang. Timnas Indonesia kini memberi harapan baru setelah sekian lama terpuruk tak terdengar gaungnya.

Saya menyaksikan euforia itu. Di pagelaran AFF Suzuki Cup sejak awal bulan ini hingga berakhir tanggal 29 kemarin. Ada rasa bangga dan haru kala menonton timnas kita main di GBK yang disaksikan puluhan ribu suporter fanatik. Mungkin ini yang disebut era baru? Sebuah pagelaran yang menghibur begitu dirindukan kala hampir satu dekade timnas kita tanpa banyak bicara di ajang internasional?

Saya tak ingin berbicara tentang prestasi timnas. Saya pun, seperti kebanyakan penggila bola, sudah tahu persisnya kayak apa. Tapi di ajang piala AFF itu, sungguh saya dibuat tercengang. Suguhan permainan yang menghibur, euforia penonton yang aduhai, hingga wajah pemain baru atau lawas dengan skil permainannya yang kini mulai jadi perhatian publik.

Sejak pertama turnamen ini digelar, laju timnas Indonesia langsung menggebrak. Dimulai melibas Malaysia dengan skor kemenangan yang amat mencolok 5-1. Lalu menggunduli 6-0 saat melawan Laos. Lalu ditutup dengan manis dengan menjuarai grup A saat melibas Thailand dengan skor 2-1—sebuah kemenangan heroik setelah hampir 12 tahun Negeri Gajah tersebut mendominasi timnas Indonesia.

Status timnas yang juara grup mempertemukan Philipina sebagai peringkat kedua grup B. Laju timnas pun tak terbendung. Di kandang lawan—yang dimainkan di GBK lantaran di Philipina tak ada stadion yang memenuhi standar FIFA—timnas menang 0-1 lewat sundulan maut Cristian Gonzales. Di sembilan puluh menit kedua, di GBK, lagi-lagi Gonzales penentu skor kemenangan. Pemain naturalisasi ini mencetak satu gol dengan tendangan keras jarak jauh. Skor agregat 2-0 akhirnya mengantarkan Indonesia melaju ke babak final menantang Malaysia setelah menang agregat 2–0 menyingkirkan Vietnam.

Jika melihat dominasi Indonesia, yang bahkan seri pun tidak, apalagi kalah, sepanjang laga, membuat kalangan tiba-tiba menjadi penggila bola. Dimana-mana diskusi sepakbola selalu menjadi topik yang menarik. Saya menyaksikan: baik di tivi, portal berita online, situs-situs jejaring sosial maupun di blog-blog, sepakbola adalah suguhan yang asyik diobrolkan sembari menebak-nebak dan menganalisa kehebatan timnas kita.

Saya sendiri terkaget-kaget ketika banyak membaca status di facebook maupun twitter yang menggandrungi sepakbola ini. Begitu ramai dan antusiasnya mereka. Sungguh situasi ini berbeda kala delapan tahun lalu saya masih di Indonesia. Menurut pantauan saya, sepakbola Indonesia tak seheboh ini. Kalaupun ada kehebohan itupun sebatas dukungan mereka kepada tim-tim raksasa Eropa atau turnamen internasional seperti Piala Dunia dan Piala Eropa.

Tapi kali ini tidak. Orang-orang Indonesia mulai gila bola. Yang tua sampai yang muda baik pria maupun pria, dari yang paham tentang bola, atau yang kagetan lantaran ikut-ikutan setelah melihat hasil apik timnas Indonesia di turnamen AFF Suzuki Cup 2010, yang kebetulan kali ini Indonesia menjadi tuan rumah untuk pertandingan satu grup.

Indonesia memang dikenal sebagai negara penggila sepakbola. Tapi anehnya kegilaan pendukung ini tidak diimbangi dengan prestasi memuaskan timnas kita. Walhasil, efouria timnas di ajang kejuaraan Asia Tenggara itu seakan-akan menjadi obat dahaga kita akan prestasi timnas di ajang internasional. Saya pun larut dalam euforia itu. Tenggelam dalam keasyikkan bahwa olahraga populer yang bernama sepakbola itu sesungguhnyalah yang bisa mengangkat martabat Indonesia di mata dunia. Rasanya, melalui sepakbola, ada kebanggaan yang saya rasakan, setelah melihat perjuangan timnas di lapangan yang tak henti-hentinya mendapat aliran dukungan dari penonton.

Dari sini, orang-orang mulai menggembor-gemborkan rasa nasionalisme. Jiwa kepemilikan terhadap tanah air perlu digugah kembali. Rasanya nasionalisme kita selama ini tergadaikan, kata banyak orang. Tapi, melalui permainan 90 menit itu, kita kembali eling rasa nasionalisme setelah sama-sama mendukung perjuangan timnas. Orang semakin yakin tentang nasionalisme jika melihat perjuangan suporter saat membeli tiket yang tak mudah didapat setelah melihat ketidakbecusan pengurus PSSI dalam mengelola tiket.

Dan sepakbola pun terbuki, bahwa kita perlu berhenti sejenak melupakan persaingan atau permusuhan dalam warna politik, warna jabatan, ego pribadi, lalu duduk bersama sebagai suporter untuk mendukung kedigdayaan timnas. Segala hal yang di luar dukungan terhadap timnas kita stop dulu. Dengan begitu, saya merasakan adanya tontonan kebersamaan yang indah dengan cita rasa nasionalisme yang membahana.

Tapi apa lacur. Di luar sepakbola, masih ada orang-orang oportunis memanfaatkan momen itu. Politisasi sepakbola, demikian kesimpulan banyak orang, ketika ada petinggi negeri ini yang kebetulan pimpinan parpol tampil bak pahlawan. Caranya sungguh menggelikan, dengan mengundang timnas sarapan pagi bersama di rumahnya, memberikan bonus hadiah, bahkan menghibahkan lahan tanah untuk latihan sepakbola. Cara ini dilakukan ketika timnas menunjukkan tanda-tanda akan meraih prestasi, meskipun entah perhatian apa yang diberikan saat timnas kita terpuruk??

Seolah-olah sudah juara, banyak yang mengklaim keberhasilan timnas Indonesia. Seolah-olah sudah juara, bahwa konsenstrasi yang seharusnya difokuskan untuk pertandingan 2x90 menit kedepan tidak sepenuhnya bertumpu pada satu titik untuk kemenangan. Ada sikap meremehkan kekuatan tim lawan di pertandingan final penentuan juara. Kesimpulan saya peroleh setelah hasil mengecewakan saat timnas kita dipermalukan tuan rumah Malaysia di leg pertama dalam pertandingan final.

Saya pun, mungkin demikian kesimpulan banyak orang, terperangah ketika melihat timnas tak berdaya melawan Malaysia dengan skor 3–0. Di kandang malaysia, saya menyaksikan betapa rapuhnya pertahanan timnas Indonesia. Dari permainan yang buruk hingga kekalahan yang diderita akhirnya menerbitkan pesimisme jika Indonesia bakal kesulitan membalikkan keadaan untuk juara.

Semua itu terbukti. Indonesia gagal juara. Kemenangan 5–1 atas Malaysia di babak penyisihan sulit diulangi kembali. Asa itu muncul karena untuk juara timnas harus menang minimal 4–0. Dukungan suporter pun tak membantu Indonesia menjadi juara, meskupun dalam laga itu, kita menang 2-1. Ya, Indonesia menang, tapi gagal juara karena agregat pertandingan final itu berakhir dengan skor 4–2 untuk kemenangan Malaysia.

Saya sedih. Hadiah kemenangan yang seharusnya diterima rakyat indonesia, termasuk saya, di penghujung tahun ini, tidak menjadi kenyataan. Namun, di samping itu, ada rasa optimisme akan masa depan timnas Indonesia. Bahwa sesungguhnya ada potensi besar pemain yang dimiliki Indonesia. Ini saya lihat dari permainan mereka selama kejuaraan ini. Apalagi, timnas yang dibentuk dibawah pelatih Alfred Reidl ini belum sampai umur setahun. Tinggal bagaimana pengurus bola di negeri saya mengoptimalkannya dengan pembinaan dini serta kompetisi-kompetisi yang berkualitas.

Kattamea, 31 Desember 2010
logoblog

Tidak ada komentar:

Posting Komentar