Sebagai mahasiswa non beasiswa, hal tersebut memang sangat menyita pikiran. Minimnya pemasukan akhir-akhir ini membuat aku kadang stres memikirkan segala macam iuran. Tapi gimana lagi, aku ini hidup bersama dengan teman-teman lain. Hidup dengan menyewa rumah yang segala tanggungan kami pikul bersama.
Untuk itu, prinsip kebersamaan dan tenggang rasa kami berlakukan. Yang punya duit sementara waktu bisa meminjami yang sedang bokek. Namun kalau sama-sama kere, ya silahkan cari pinjaman sendiri di luar sana! Hehe..
Nah, imbas dari segala macam iuran itu, rupanya berdampak sistemik pada menu makanan kami, terutama pada akhir bulan. Seperti Jum'at sore kemarin (30/4), pas aku giliran masak, menu masak pun seadanya. Ya, apa boleh buat.
Meskipun menu seadanya tapi tak ngenes-ngenes amat lho. Maksudku menu seadanya karena aku tidak bisa belanja macam-macam untuk mempersedap makanan. Biasanya, selapas jum'atan aku belanja aneka rupa keperluan masak. Terutama sayur hijau-hijauan yang favoritku. Terkadang kalau pas ada uang, aku malah beli setengah kilo mafrum (buat bakso), satu kilo haekal (balungan ayam), atau satu kilo ikan tuna.
Namun Jumat siang itu kayaknya lagi tragis. Maksud hati ingin makan seger-seger, tak kesampaian. Iuran masak tak ada, sementara uangku tak cukup untuk nalangi belanja bahan-bahan seperti yang kusebutkan di atas.
Hari itu aku malas pergi ke pasar karena uang tak cukup banyak. Aku pun memutar otak. Aku kan lagi pingin makan seger-seger. Karena itu, aku mikir bagaimana rasa makanan tetap sedap tapi murah. Akhirnya, aku berniat beli haekal satu kilo di toko ayam dekat rumahku. Namun sial ternyata haekalnya kurang sekilo. Untuk menggenapi kekurangan itu aku lantas beli tujuh telur. Angka tujuh musti tepat karena anggota serumahku berjumlah tujuh orang. Jadi tak boleh kurang. Harus pas, syukur-syukur lebih.
Karena di musim panas, masakan berkuah adalah kesukaanku. Untuk itu, haekal dan telur masakannya musti berkuah. Lagi-lagi kurangnya bumbu menghambat aktivitas memasak. Tomat tak ada, bawang putih tinggal separuh siung. Tak mengapalah, yang penting sudah ada haekal yang kalau dimasak kuahnya lumayan menambah rasa sedap.
Seperti biasa, aku masak nasi dulu. Baru iris-iris bumbu. Bumbunya apalagi kalau bukan bawang merah sama lombok. Bawang merah kuiris tipis-tipis, tak perlu blender. Setelah itu, bawang merah kugoreng lalu kuangkat dari wajan setelah nampak kering. Biasanya setelah menggoreng bawang merah, langsung kukasih air terus kumasukkan bahan-bahan yang akan dimasak. Namun kali ini lain. Karena bumbu terbatas perlu terobosan biar rasa masakanku mantab di lidah.
Di Mesir memang sulit menemukan bumbu-bumbu yang komplit seperti di Indonesia. Kadang aku berpikir, betapa enaknya hidup di Indonesia. Rempah-rempahnya kaya. Kuliner pun beraneka ragam dengan rasa gurih dan mantab. Membayangkan kuliner Indonesia, terkadang membuatku agak menyesal kenapa lama-lama di Mesir.
Setelah itu aku lantas mengiris-iris kecil bawang putih dan lombok. Seharusnya bawang ini enaknya diulek pakek cobek. Tapi karena lagi malas nyuci cobek yang lagi kotor, aku iris-iris tipis bawang putih tersebut. Kemudian aku memanaskan minyak di atas panci. Setelah minyak terasa panas irisan bawang putih kumasukkan ke dalam panci. Lombok baru menyusul setelah bawang putih sudah nampak kering. Kemudian potongan haikal kumasukkan disertai dengan tambahan sedikit air.
Biar sedap, kuahnya kukasih santan. Tak perlu repot-repot memarut kelapa untuk menghasilkan santan. Selain kelapa di sini mahal, juga repot bila beli kelapa terus marut segala. Ada jenis kelapa yang sudah parutan. Namanya gauz hindi. Adapun caranya biar bisa menghasilkan santan adalah gauz hindi dimasak dengan air sampai matang, kemudian diblender. Selanjutnya, gauz hindi diperas pakek saringan, tergantung berapa volume santan yang diperlukan.
Setelah haikal sudah masak, santan kumasukkan. Kemudian gorengan telur dan bawang goreng. Setelah itu, tak lupa kukasih penyedap rasa, garam serta bumbu-bumbu lain yang sekiranya bisa menambah kelezatan masakan. Setelah semuanya komplit, nunggu lagi kira-kira sepuluh menit sebelum menyudahi semua aktivitas memasak.
Dan akhirnya... Lihat sendiri ya foto di atas. Nah, itulah menu kami akhir bulan ini. Rasanya sih, ya, lumanyalah. Tak tahu apa nama menu itu. Yang jelas siang itu, alhamdulillah, aku masih kuat makan meskipun dengan menu seadanya.
Untuk makan malamnya aku masak mie goreng kucampur dengan irisan telur . Karena lagi malas, apalagi barang belanjaan tak ada, tak ada pilihan lain kecuali masak yang instan dan cepat. Kualitas rasa makanan pun tetap terjaga setelah kuproses sedemikian rupa hingga aku lahap dan kenyang.
Aku pun bersyukur. Makan menu seadanya di akhir bulan, tanpa mengurangi nafsu makan.[]
Kattamea, 1 Mei 2010
alhamdulillah.. :)
BalasHapusalhamdulillah, meskipun masakannya tak enak :D
BalasHapusBuatku mana Tad...??? :-)
BalasHapus